Minggu, 13 Maret 2011

TEORI LOKASI WEBER


TEORI SEGITIGA LOKASIONAL OLEH ALFRED WEBER

Teori Lokasi adalah suatu ilmu yang mengkhususkan analisanya pada penggunaan konsep space dalam analisa sosial-ekonomi. Teori lokasi industri adalah suatu teori yang dikembangkan untuk memperhitungkan pola lokasi kegiatan ekonomi termasuk di dalamnya kegiatan industri dengan cara konsisten dan logis Teori lokasi seringkali dikatakan sebagai pondasi dan bagian yang tidak terpisahkan dalam analisa ekonomi regional. Peranan teori lokasi dalam ilmu ekonomi regional sama halnya dengan teori mikro dan makro pada analisa tradisional. Dengan demikian analisa ekonomi regional tidak dapat dilakukan tanpa peralatan teori lokasi. Geografi Industri sebagai bagian dari Geografi ekonomi yang mempelajari lokasi industri, sedangkan faktor lokasi ini berkaitan dengan wilayah bahan mentah, pasaran, sumber suplai tenaga kerja, wilayah bahan bakar dan tenaga, jalur transportasi, kondisi wilayah, bahan bakar ( tenaga), buruh dan konsumen.
Penerapan ilmu menentukan tempat atau lokasi, banyak dikaji oleh para perencana wilayah dalam kegiatan industri. Banyak teori lokasi yang digunakan untuk menentukan lokasi industri. Pengambilan keputusan untuk memilih lokasi merupakan kerangka kerja yang prospektif bagi pengembangan suatu kegiatan yang bersifat komersil, yaitu pemilihan lokasi-lokasi yang strategis, artinya lokasi itu memiliki atau memberikan pilihan-pilihan yang menguntungkan dari sejumlah akses yang ada. Semakin strategis suatu lokasi untuk kegiatan industri, berarti akan semakin besar peluang untuk meraih keuntungannya. Jadi, tujuan dari penentuan lokasi industri yaitu untuk memperbesar keuntungan dengan menekan biaya produksi dan meraih pasar yang besar dan luas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi atau perlu diperhitungkan dalam menentukan lokasi industri dinamakan faktor lokasi, yaitu sebagai berikut:
Ø  Bahan mentah, merupakan kebutuhan pokok dalam kegiatan industri, sehingga harus selalu tersedia dalam jumlah besar demi kelancaran produksi.
Ø  Modal, peranannya sangat penting untuk kelancaran kegiatan produksi, baik dalam pengadaan bahan mentah, upah kerja dan biaya produksi lainnya.
Ø  Tenaga kerja, merupakan tulang punggung kelancaran proses produksi, baik jumlah maupun keahliannya.
Ø  Sumber energi, kegiatan industri memerlukan sumber energi, baik berupa energi listrik, BBM dan gas.
Ø  Transportasi dan komunikasi, lokasi industri harus dekat dengan prasarana dan sarana angkutan atau perhubungan dan komunikasi, seperti jalan raya, jalan kereta api dan pelabuhan untuk memudahkan pengangkutan hasil industri dan bahan mentah, serta telepon untuk memudahkan arus informasi.
Ø  Pemasaran, lokasi industri harus menjangkau konsumen sedekat mungkin agar hasil produksi mudah dipasarkan.
Ø  Teknologi, penggunaan teknologi yang kurang tepat guna dapat menghambat jalannya suatu kegiatan industri.
Ø  Peraturan, peraturan atau perundang-undangan sangat penting demi menjamin kepastian berusaha dan kelangsungan industri. seperti peraturan tata ruang, fungsi wilayah, UMR, perijinan, sistem perpajakan dan sebagainya.
Ø  Lingkungan, faktor lingkungan yang kurang kondusif selain menghambat kegiatan industri juga kurang menjamin keberadaannya. Misalnya keamanan, jarak ke lokasi pemukiman, polusi atau pencemaran, dan sebagainya.
Ø  Iklim dan sumber air, menentukan kegiatan industri, artinya keadaan iklim dan ketersediaan sumber air jangan sampai menghambat kegiatan produksi.
Menentukan lokasi industri adalah proses pemilihan lokasi optimal yaitu lokasi terbaik secara ekonomis (dapat memberikan keuntungan maksimal, biaya terendah dan pendapatan tertinggi). Namun semua faktor industri tersebut tentunya tidak seluruhnya dapat diakomodasi secara keseluruah. Terkadang satu industri akan lebih dekat dengan lokasi bahan baku tetapi jauh dengan lokasi pemasaran, atau sebaliknya. Karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan maka lahirlah teori-teori untuk membantu memecahkan masalah penentuan lokasi, yaitu harus didasarkan pada faktor-faktor produksi paling dominan dari suatu kegiatan industri.
Berdasarkan lokasinya industri dibedakan menjadi berikut :
    1. Industri yang berorientasi pada pasar (market oriented industry)
Industri ini didirikan berdekatan dengan potensi pasar atau potensi manusia sebagai konsumen. Misalnya industri makanan dan minuman. Hal ini disebabkan karena hasil produksi (barang jadi) mudah rusak/basi sehingga harus cepat-cepat sampai ke tangan konsumen.
    1. Industri yang berorientasi pada tenaga kerja (Labour oriented industry)
Industri ini didirikan berdekatan dengan pemusatan manusia yang berpotensi sebagai tenaga kerja. Misalnya indsutri rokok dan industri garment (tekstil)
    1. Industri yang berorientasi pada bahan baku (Raw material oriented industry). Industri ini didirikan dekat dengan ketersediaan bahan baku sebagai roda penggerak utama industri. Misalnya industri semen. Hal ini dipikirkan karena bahan baku yang yang digunakan oleh industri tersebut mudah rusak dan volumenya berat, jika dilakukan pengangkutan maka biayanya menjadi lebih mahal.
    2. Industri yang berorientasi pada tempat pengolahan. Industri ini didirikan dekat dengan tempat pengolahan. Misalnya industri pengalengan ikan.

Pemilihan lokasi untuk setiap bentuk kegiatan dalam proses produksi sangat menentukan efektifitas dan efesiensi keberlangsungan kegiatan tersebut. Suatu lokasi yang optimal secara ekonomis, mengurangi beban biaya yang ditanggung oleh suatu bentuk kegiatan. Dalam pemilihan lokasi industri yang tepat akan berkaitan dengan analisa ekonomi karena akan mempengaruhi biaya total proses produksi, selain faktor ekonomi juga dipengaruhi faktor ruang (spatial factor). Karena lokasi yang ideal itu jarang ditemukan, maka faktor yang paling menentukan berdirinya industri tersebut biasanya diorientasikan terhadap bahan mentah, pasar dan sumber bahan baku. Least Cost Location merupakan pemilihan lokasi - lokasi industri berdasarkan tempat - tempat yang mempunyai biaya paling minimum dari bahan mentah yang dibutuhkan, tenaga kerja serta konsumen (pasar), yang semuanya ditimbang dengan biaya transportasi.
Adapun tujuan teori ini adalah untuk menentukan lokasi optimalnya (Optimum location) yaitu lokasi yang terbaik secara ekonomis. Menurut lokasi industri optimal Losch (Economic of location) yang berdasarkan demand (permintaan), sehingga disitu diasumsikan bahwa lokasi optimal dari suatu pabrik atau industri adalah dimana yang bersangkutan dapat menguasai wilayah pasaran yang terluas sehingga dapat menghasilkan paling banyak keuntungan.

LEAST COST LOCATION

Salah satu ilmuawan yang mengungkapkan teori tentang lokasi industri adalah Alfred Weber. Alfred Weber, ekonom Jerman yang mengajar di Universitas Praha pada tahun 1904 hingga 1907 dan kemudian di Universitas Heidelberg (Jerman) pada 1907 – 1933, menulis buku berjudul Uber den Standort der Industrien (1909) yang kemudian dialihbahasakan oleh J.C. Friedrich menjadi Alfred Weber’s Theory of Location of Industries (1929). Beliau merupakan pelopor pengembangan rumusan mengenai teori lokasi dengan pendekatan kegiatan industri pengolahan (manufacturing).
Prinsip teori Weber adalah bahwa penentuan lokasi industri ditempatkan di tempat-tempat yang resiko biaya atau biayanya paling murah atau minimal (least cost location) yaitu tempat dimana total biaya transportasi dan tenaga kerja di mana penjumlahan keduanya minimum, tempat dimana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum yang cenderung identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum. Prinsip tersebut didasarkan pada enam asumsi bersifat prakondisi, yaitu :
1.      Wilayah bersifat homogen dalam hal topografi, iklim dan penduduknya (keadaan penduduk yang dimaksud menyangkut jumlah dan kualitas SDM)
2.      Ketersediaan sumber daya bahan mentah.
3.      Upah tenaga kerja.
4.      Biaya pengangkutan bahan mentah ke lokasi pabrik (biaya sangat ditentukan oleh bobot bahan mentah dan lokasi bahan mentah)
5.      Persaingan antar kegiatan industri.
6.      Manusia berpikir secara rasional.

Weber juga menyusun sebuah model yang dikenal dengan istilah segitiga lokasional (locational triangle), yang didasarkan pada asumsi :
1.      Bahwa daerah yang menjadi obyek penelitian adalah daerah yang terisolasi. Konsumennya terpusat pada pusat-pusat tertentu. Semua unit perusahaan dapat memasuki pasar yang tidak terbatas dan persaingan sempurna.
2.      Semua sumber daya alam tersedia secara tidak terbatas.
3.      Barang-barang lainnya seperti minyak bumi dan mineral adalah sporadik tersedia secara terbatas pada sejumlah tempat.
4.      Tenaga kerja tidak tersedia secara luas, ada yang menetap tetapi ada juga yang mobilitasnya tinggi.

Dalam menentukan lokasi industri, terdapat tiga faktor penentu, yaitu biaya transportasi, upah tenaga kerja, dan dampak aglomerasi dan deaglomerasi. Biaya transportasi diasumsikan berbanding lurus terhadap jarak yang ditempuh dan berat barang, sehingga titik terendah biaya transportasi menunjukkan biaya minimum untuk angkutan bahan baku dan distribusi hasil produksi. Biaya transportasi akan bertambah secara proporsional dengan jarak. titik terendah biaya transportasi adalah titik yang menunjukkan biaya minimum untuk angkutan bahan baku (input) dan distribusi hasil produksi (output).
Biaya transportasi dipengaruhi oleh berat lokasional, yaitu berat total semua barang berupa input yang harus diangkut ketempat produksi untuk menghasilkan satu satuan output ditambah berat output yang akan dibawa ke pasar. Berat total itu terdiri dari satu satuan produk akhir ditambah semua berat input yang harus diangkut ke lokasi pabrik seperti bahan mentah yang diperlukan untuk menghasilkan satu satuan output. Dalam model ini, tujuannya adalah meminimumkan biaya transportasi sebagai fungsi dari jarak dan berat barang yang harus diangkut (input dan output).
Untuk menunjukkan apakah lokasi optimum tersebut lebih dekat ke lokasi bahan baku atau pasar dengan memperhitungkan bagaimana cara meminimalkan biaya transportasi.Weber mengembangkan konsep tiga arah yang dikenal dengan teori segitiga lokasi (locational triangle) seperti gambar berikut, yang kemudian dirumuskan secara matematis dengan sebuah persamaan.
T(k) = q [ ( k1 a1 n1 ) + (k2 a2 n2 ) + m k3 ]
T(k)        =  Biaya angkut minimum
M           =  Sumber bahan baku
C            =  Pasar
K           =  Lokasi optimal industri
q            =  Output (hasil produksi)
k            =  Jarak dari sumber bahan baku dan pasar
a             =  Koefisien input
n            =  Biaya angkut bahan baku
m           =  Biaya angkut hasil produksi

Dalam menentukan lokasi suatu industri dipengaruhi tiga faktor penentu yaitu material, konsumsi dan tenaga kerja. Ketiga faktor tersebut diukur dengan ekuivalensi ongkos transport. Selain itu Weber juga mengajukan beberapa asumsi lagi yakni hanya tersedia satu jenis transportasi, lokasi pabrik hanya ada di satu tempat dan jika ada beberapa bahan mentah maka sumbernya juga dari beberapa tempat. Hal ini juga disebabkan karena biaya transport tergantung pada bobot barang dan jarak yaang harus ditempuh untuk mengangkutnya. Jika sumber bahan baku dan pasar berada pada arah yang berbeda, maka lokasi biaya transportasi termurah adalah pada pertemuan keduanya.
Untuk menunjukkan apakah lokasi optimum tersebut lebih dekat ke lokasi bahan baku atau pasar. Segitiga diatas memperlihatkan bagaimana cara meminimalkan biaya transportasi. Memperhitungkan berat bahan baku (ton) yang akan ditawarkan di pasar,  material yang berasal dari masing-masing lokasi penyedia bahan baku yang diperlukan. Masalahnya berada dalam mencari lokasi pabrik yang optimal terletak di masing-masing jarak pasar dan lokasi sumber bahan baku. Beberapa metodologi dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah seperti menggambarkan sebuah analogi ke dalam sistem bobot dan pulleys (Varignon's solusi) atau menggunakan trigonometri. Cara lain yang biasanya dipilih oleh para ahli geografi adalah dengan SIG.
Weber menyimpulkan bahwa lokasi optimal dari suatu perusahaan industri umumnya terletak di dekat pasar atau sumber bahan baku. Alasannya adalah jika suatu perusahaan industri memilih lokasi pada salah satu dari kedua tempat tersebut, maka ongkos angkut untuk bahan baku dan hasil produksi akan dapat diminimumkan dan keuntungan aglomerasi yang ditimbulkan dari adanya konsentrasi perusahaan pada suatu lokasi akan dapat pula dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja di mana penjumlahan keduanya harus minimum. Tempat di mana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum. Menurut Weber ada tiga faktor yang mempengaruhi lokasi industri, yaitu biaya transportasi, upah tenaga kerja, dan kekuatan aglomerasi atau deaglomerasi. Dalam menjelaskan keterkaitan biaya transportasi dan bahan baku, Weber menggunakan konsep segitiga lokasi atau locational triangle untuk memperoleh lokasi optimum. Untuk menunjukkan apakah lokasi optimum tersebut lebih dekat ke lokasi bahan baku atau pasar, Weber merumuskan indeks material (IM), sedangkan biaya tenaga kerja sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi lokasi industri dijelaskan Weber dengan menggunakan sebuah kurva tertutup (closed curve) berupa lingkaran yang dinamakan isodapan (isodapane).

Gambar segitiga lokasi Weber
                           (a)                            (b)                             (c)
Keterangan :
M              : Market
RR2          : Raw materials (bahan mentah)
P               : Lokasi berbiaya terendah

Berdasarkan pertimbangan segitiga lokasi di atas, dihasilkan tempat dengan biaya transportasi minimal (minimum transportation cost) dengan titik-titik penghubung satu sama lain. Gambar (a) terjadi saat berat bahan baku sama dengan berat barang jadi, sehingga biaya transportasi minimal saat lokasi optimal berada di tengah, di mana nilai IM sama dengan 1. Gambar (b) terjadi saat berat bahan baku lebih besar dari berat barang jadi, sehingga lokasi optimal berada mendekati sumber bahan baku karena biaya transportasi bahan baku lebih mahal, di mana nilai IM lebih besar dari 1. Gambar (c) terjadi saat berat bahan baku lebih kecil dari berat barang jadi, sehingga lokasi optimal berada mendekati pasar karena biaya transportasi bahan baku lebih murah, di mana nilai IM kurang dari 1.
Menurut Weber ada jenis industri yang bahan mentahnya selama proses produksi beratnya berkurang (weight losing) dan ada yang bertambah beratnya (weight gaining). Misalnya industri kertas tergolong sebagai weight losing.  Jika berat bahan tetap, meski mengalami pemrosesan, indeks materialnya = 1; jika beratnya berkurang, indeks materialnya < 1. Pada kasus ini, biaya beratnya menuju pabrik lebih mahal daripada biaya transport barang jadi menuju pasaran. Akibatnya lokasi pabrik dipindahkan mendekati sumber bahan mentah (resource oriented, misalnya ke P2 pada gambar. Untuk industri yang weight gaining, indeks material < 1 lokasi pabrik sebaiknya mendekati M, misalnya di P3.
Transportasi menuju pabrik disebut assembly cost dan yang menuju pasaran disebut distribution cost. Adapun indeks material oleh weber dirumuskan : bobot bahan mentah dibagi bobot barang jadi. Jadi, jika untuk memproduksi barang jadi seberat 2 ton diperlukan bahan mentah 4 ton, indeks materialnya ada 2, yang berarti > 1. Sebaliknya jika indeks material yang 1, kiblat industri harus berorientasi pada pasar.
Pada kenyataannya, jarak antara daerah asal bahan mentah dan titik konsumen / pasar bukan berupa jarak yang lurus. Jalanya bisa berkelok-kelok dan naik turun, serta membutuhkan sumbangan sarana transportasi lain. Jadi harus diperhitungkan lokasi teoritis dan lokasi praktis.

Gambar Lokasi teoritis dan lokasi praktis.


















Pada gambar (a) menunjukkan bahwa hanya tersedia satu jenis transportasi berupa kereta api, terdapat bahan mentah di M dan P, sedangkan K adalah ota pasaran. Menurut teori maka letak pabrik yang optimumadalah di titik L, tetapi berdasarkan pertimbangan praktis pabrik di letakkan di LR, yaitu kota terdekat dengan L dimana teresedia sarana transportasi kereta api. Sedangkan pada gambar (b) ada dua sarana transportasi berupa kereta api dan perahu melewati sungai, material M terdapat di M dan material P terdapat di P1 dan P2. Jika yang tersedia hanya satu jenis transportasi yakni kereta api, maka lokasi pabriknya adalah di M dan P2, tetapi dengan tersedianya jalur transportasi air yang lebih murah, maka sungai juga harus diperhitungkan. Misalnya biaya transport dan material P ke K setengah dari yang P2 ke K, atau sama dengan jalan dari P1 ke K1. Karena faktor tersebut maka letak pabrik yang optimal praktis tidak lagi dKarena faktor tersebut maka letak pabrik yang optimal praktis tidak lagi di L2 tetapi di L1.
Teori segitiga lokasi Weber ini bisa menjelaskan dengan sangat baik mengenai indutri berat mulai revolusi industri sampai dengan pertengahan abad dua puluh. Bahwa kegiatan yang lebih banyak menggunakan bahan baku cenderung untuk mencari lokasi dekat dengan lokasi bahan baku, seperti pabrik alumunium lokasinya harus  dekat lokasi tambang dan dekat dengan sumber energi (listrik). Kegiatan yang menggunakan bahan baku yang ada di mana-mana, seperti air, cenderung dekat dengan lokasi pasar. Untuk menilai masalah ini, Weber mengembangkan material index  yang diperoleh dari berat input dibagi berat dari produk akhir (output). Jika material indexnya lebih dari 1 maka lokasi cenderung kearah dekat dengan bahan baku, jika kurang dari 1 maka penentuan lokasi industri cenderung  mendekati pasar.
Industri primer adalah Industri yang menghasilkan barang-barang tanpa pengolahan lebih lanjut sehingga bentuk dari bahan baku/mentah masih tampak. Contohnya : industri pengasinan ikan, penggilingan padi, anyaman.  Jadi industri primer ini aktivitasnya lebih banyak menggunakan bahan baku,  sehingga menurut teori webber lokasi industrinya yang tepat adalah dekat dengan bahan baku.
Dan jika dihitung berdasarkan teori material indexnya weber misal : industri pengasinan ikan, berat input (ikan segar) lebih berat dari berat ikan asin jadi material idexnya lebih dari 1,  maka menurut webber untuk menghemat biaya transportasi dan untuk mendapatkan keuntungan maksimal maka lokasi industrinya yang tepat adalah yang dekat dengan bahan baku.
Untuk memperkuat teori segitiga lokasi, weber juga menyatakan teorinya tentang kombinasi assembling cost  yakni “ Biaya transportasi meningkat menurut tangga dan transportasi itu sendiri meningkat mengikuti tangga per unit jarak di sepanjang pengangkutannya”. Dengan memperhitungkan assembling cost maka dapat dilihat bahwa ada kasus industri yang berkiblat pada bahan mentah selalu ada dorongan untuk menempatkan pabrik ditempat sumber bahan mentah. Sebaliknya, penempatan pabrik di dekat dengan pasar hampir tidak dapat dihindarkan dari industri yang berkiblat ke pasar. Pada kasus dimana pabrik berlokasi pada situasi antara pasar dan sumber bahan mentah, dapat disimpulkan bahwa pihak pabrik harus memperhatikan kemungkinan pengaruh dari faktor-faktor non biaya transport.
Weber membuat penyederhanaan dalam membayangkan bentang lahan (Homogen dan datar). Ia juga mengesampingkan perhitungan upah buruh dan juga jangkauan pemasaran. Tetapi hal-hal yang menyangkut bahan mentah Weber membedakan antara jenis-jenis yang terbatas atau yang hanya ditemukan dilokasi tertentu (misalnya batubara, bijih besi, minyak bumi, bahan kimiawi, dll) dan bahan mentah yang dapat ditemukan disembarang tempat  (misalnya air). Perumusan biaya terendah memuat sugesti bahwa kegiatan produksi (pabrik maupun perusahaan) lokasinya haruslah di tempat yang memungkinkan overall transport cost yang mininal.
Jika ada dua bahan mentah (R1 dan R2) dan pasar tunggal (M), dengan anggapan bahwa biaya angkutan per unit beban sama, maka biayanya dari masing-masig titik (R1 dan R2) dapat dilukiskan isotims yang konsentris dengan jarak yang sama. Masing-masing isotim menunjukkan lokasi dai titik-titik dimana biaya angkut total dapat dihitung dengan cara menjumlah nilai dari isotim yang saling mengiris. Garis-garis penghubung titik-titik dengan total transprtation cost yang sama disebut isodapanes, garis ini membatasi cost gradient (derajat naiknya biaya) bagi komoditi. 





Sumber :
Daldjoeni, N. Geografi Kota dan Desa. Bandung : Alumni.
Sarisha, Ayya. 2010. Teori Lokasi Industri Weber – RI Analok 5. http://ayyasarisha.blogspot.com/2010/09/teori-lokasi-industri-weber-rl-analok-5.html. Diakses pada tanggal 06 Desember 2010.
Rahma, Eka Ainur. 2010.  Teori - Teori Lokasi. http://belajargeografiyuk.blogspot.com/2010/01/teori-teori-lokasi-teori-lokasi-adalah.html. Diakses pada tanggal 06 Desember 2010.
Arisanti, Ana. 2010. Pemilihan lokasi industri primer berdasarkan teori weber. http://anaarisanti.blogspot.com/2010/05/menurut-teori-weber-pemilihan-lokasi.html. Diakses pada tanggal 06 Desember 2010.
Adrian, Indrajaya. 2008. Teori lokasi dan pola ruang – Teori lokasi Alfred Weber dan August Losch. http://indrajayaadriand.wordpress.com/2008/04/04 /tugas-3-bu-bitta-teori-lokasi-pola-ruang/. diakses tanggal 06 Desember 2010

Teori Lokasi Weber. http://virgidede.blogspot.com/2010/10/teori-lokasi-weber.html. Diakses pada tanggal 06 Desember 2010.

Lokasi Industri.2009. http://link-geo.blogspot.com/2009/08/lokasi-industri.html. Diakses pada tanggal 06 Desember 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar